Muara Enim (Kemenag Sumsel) – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 H, seluruh Madrasah Aliyah Negeri 1 Muara Enim menggelar kegiatan Pesantren Ramadan (atau sering disebut Pesantren Kilat). Meski berdurasi singkat, kegiatan ini terbukti memberikan dampak signifikan yang jauh melampaui rutinitas belajar di kelas pada hari-hari biasa.
Bagi siswa MAN 1 Muara Enim, Pesantren Ramadan tahun ini bukan sekadar pemenuhan kurikulum, melainkan momentum transformasi spiritual dan penguatan jati diri sebagai generasi milenial yang religius. Dampak besar yang dirasakan oleh para siswa seperti penguatan Literasi Keagamaan yang Mendalam, berbeda dengan pelajaran Agama Islam reguler, Pesantren Ramadan fokus pada tajwid praktis, dan fiqh keseharian. Hal ini memperkokoh pemahaman siswa agar tidak mudah terpapar paham radikalisme atau hoaks bernuansa agama.
Pesantren Ramadan menekan pada aspek behavioral. Siswa dilatih disiplin bangun dini hari untuk salat Tahajud, menjaga lisan, dan mengedepankan etika terhadap guru serta sesama rekan. Melatih Kemandirian dan Kepemimpinan di MAN 1 Muara Enim siswa senior dilibatkan sebagai panitia atau mentor bagi adik kelasnya. Ini melatih kemampuan manajerial, tanggung jawab, dan cara berkomunikasi di depan publik melalui praktik ceramah singkat (kultum). Menariknya, Pesantren Ramadan tahun ini juga mengintegrasikan teknologi. Banyak siswa MAN 1 Muara Enim memanfaatkan momen ini untuk membuat konten dakwah kreatif di media sosial, mengubah gawai mereka menjadi sarana syiar yang positif.
Kepala Madrasah menegaskan bahwa Pesantren Ramadan adalah waktu terbaik untuk menanamkan nilai Moderasi Beragama. Siswa diajarkan untuk taat pada syariat namun tetap toleran dan inklusif dalam kehidupan berbangsa. "Kami ingin lulusan MAN 1 Muara Enim tidak hanya pintar secara kognitif, tapi memiliki 'jangkar' spiritual yang kuat. Pesantren Ramadan adalah laboratoriumnya," ujar Iin Parlina Kepala MAN 1 Muara Enim.
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan ini nantinya, diharapkan semangat ibadah dan kedisiplinan yang terbentuk tidak surut setelah Ramadan usai, melainkan menjadi gaya hidup baru bagi seluruh warga madrasah.(Kmd)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar