Muara Enim (Kemenag Sumsel) — Di bawah terik matahari pagi yang mulai menghangat, ratusan siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Muara Enim berdiri dengan khidmat dalam balutan seragam lengkap. Lapangan Merdeka Muara Enim yang menjadi saksi bisu peringatan Hari Lahir Pancasila. Namun, upacara ini bukan sekadar rutinitas tahunan atau formalitas baris-berbaris demi menggugurkan kewajiban kalender akademik.
Bagi generasi Z di lingkungan madrasah, upacara Hari Lahir Pancasila adalah momentum refleksi mendalam tentang bagaimana ideologi bangsa diuji di tengah gempuran arus informasi digital yang tanpa filter. Dampak paling nyata dari penanaman nilai Pancasila di lingkungan MAN 1 Muara Enim justru terlihat di luar lapangan upacara salah satunya di layar gawai para siswa. Di era di mana media sosial rentan menjadi tempat penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi, siswa madrasah didorong untuk menjadikan Pancasila sebagai kompas moral.
"Pancasila itu bukan cuma dihafal pas upacara hari Senin. Bagi kami, sila ketiga, Persatuan Indonesia, itu praktiknya adalah dengan tidak ikut-ikutan menyebar hoaks atau merundung orang lain di media sosial," ujar salah seorang siswa kelas XI yang juga aktif sebagai pengurus OSIM (Organisasi Siswa Intra Madrasah). Senin (1/6/2026).
Melalui momentum ini, madrasah menekankan pentingnya digital citizenship (kewarganegaraan digital) yang berbasis pada nilai-nilai luhur bangsa. Siswa diajarkan bahwa jempol mereka di media sosial adalah cerminan dari pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila. Sebagai lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama, siswa MAN 1 Muara Enim memiliki posisi unik dalam menerjemahkan Pancasila. Mereka dibekali fondasi keagamaan yang kuat sekaligus komitmen kebangsaan yang utuh. Upacara ini menegaskan kembali bahwa bagi siswa madrasah, tidak ada pertentangan antara menjadi seorang muslim yang taat dan menjadi warga negara Indonesia yang setia pada Pancasila. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi fondasi utama bagi mereka untuk menghargai keberagaman dan menumbuhkan sikap toleransi antarumat beragama di tengah masyarakat yang majemuk.
Tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah angkat senjata, melainkan melawan kemalasan, kebodohan, dan krisis empati. Dampak dari peringatan ini pun langsung diwujudkan dalam program-program konkret pasca-upacara, seperti Aksi Sosial Lingkungan yaitu gerakan kebersihan lingkungan madrasah dan pemilahan sampah sebagai wujud nyata sila kelima (Keadilan Sosial) melalui pelestarian lingkungan bersama. Sebagai Proyek Profil Pelajar Pancasila, yaitu dengan penguatan literasi budaya dan gotong royong melalui proyek kelas yang mengasah kepedulian sosial siswa terhadap masyarakat di sekitar sekolah.
Ketika barisan upacara akhirnya dibubarkan, semangat yang dibawa pulang oleh para siswa tidak ikut bubar. Langkah kaki mereka keluar dari lapangan adalah langkah awal untuk membawa nilai-nilai Pancasila keluar dari teks buku sejarah, hidup dan bernapas dalam tindakan mereka sehari-hari. (Kmd).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar